Thursday, 20 December 2012

Sinopsis Scent of A Woman Episode 9






Yeon Jae memberanikan diri pergi ke rumah Ji Wook setelah mendapat dukungan dari Hye Won. Sementara itu Ji Wook baru saja memutuskan pertunangannya dengan So Kyeong. Ji Wook tak menjadikan masa lalu So Kyeong sebagai alasan. Ia mengaku dirinya tak cocok bersama So Kyeong. Ji Wook tak gentar meskipun harus mendapat tamparan dari Presiden Kang dan imbasnya nanti pada Line Tour.

Presiden Kang kembali menemui keluarga Im. Ia meminta maaf atas tindakan gegabah putranya. Presiden Im tetap meminta pertunangan dilanjutkan. Berita mengenai rencana pertunangan Ji Wook dan So Kyeong sudah tersebar di media. Presiden Im tak ingin masalah ini menjadi gosip. Karena tekanan yang mendadak, Presiden Im terkena serangan jantung. Semua orang panik.


Ji Wook sampai di rumahnya. Yeon Jae masih menunggunya.
"Kang Ji Wook-sshi, ayo kita berkencan?" ajak Yeon Jae.

Mata Ji Wook berkaca-kaca. Ia langsung menarik Yeon Jae ke dalam pelukannya. Yeon Jae syok dengan reaksi Ji Wook. Ji Wook semakin dalam memeluk Yeon Jae. Airmatanya tumpah. Perlahan Yeon Jae membalas pelukan Ji Wook.
"Aku tidak bisa...aku tidak bisa bernafas...," rintih Yeon Jae tiba-tiba.
Ji Wook langsung melepaskan pelukannya. Melihat wajah Ji Wook, Yeon Jae tahu telah terjadi sesuatu. Ji Wook mengatakan ayahnya baru saja menamparnya. Ia mengajak Yeon Jae masuk ke dalam rumahnya. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan Yeon Jae.

Ji Wook sedikit salah tingkah ketika mempersilahkan Yeon Jae masuk. Ia menawarkan air minum. Yeon Jae meminta segelas air putih. Ketika Ji Wook menyodorkan gelas pada Yeon Jae, jarinya bersentuhan dengan jari Yeon Jae. Keduanya terlihat gugup.
"Kenapa denganmu dan ayahmu?" tanya Yeon Jae menghilangkan kegugupannya.
"Aku memutuskan pertunangan," jawab Ji Wook.
Mata Yeon  Jae melebar. "Mengapa kau melakukan itu?"
"Ada apa dengan reaksimu? Jangan salah paham. Itu bukan karena kau. Aku melakukannya untuk diriku sendiri. Aku ingin hidup untuk kehidupanku sendiri," beritahu Ji Wook. "Lee Yeon Jae-sshi, barusan mengapa kau berkata seperti itu. Tadi, apa yang kau katakan.....Jika aku mengatakan tidak, apa yang akan kau lakukan?"
"Kau tidak mau?" tanya Yeon Jae.
"Tidak," jawab Ji Wook.
Yeon Jae tersenyum. Ji Wook juga tersenyum. Ponsel Ji Wook berbunyi. Ji Wook mendapat kabar Presiden Im dilarikan ke rumah sakit.


Ji Wook pergi ke rumah sakit. Presiden Kang kembali memarahi Ji Wook ketika mereka berpapasan. Presiden Kang meminta Ji Wook mempertanggungjawabkan perbuatannya. 
Setelah membicarakan masalah kesehatan Presiden Im dengan dokter, So Yoon menyalahkan So Kyeong yang menyebabkan ayah mereka masuk rumah sakit. So Yoon menyinggung masalah yang sama 5 tahun lalu saat So Kyeong mencoba bunuh diri hingga ayah mereka hampir mati. Ji Wook muncul. Ia membela So Kyeong. Ji Wook mengakui semua adalah kesalahannya.
"Mengapa kau tak menyebut mantan pacarku? Kau tak menyebutkah hal itu lalu mengumumkan pembatalan pertunangan. Apa kau pikir aku akan berterimakasih padamu?" seru So Kyeong murka pada Ji Wook.
"Karena masalah ini dan pembatalan pertunangan tidak ada hubungannya sama sekali," jawab Ji Wook.
"Kau pria busuk," damprat So Kyeong.

Ji Wook menemani So Kyeong menjaga Presiden Im. So Kyeong masuk ke kamar ayahnya. So Kyeong menangis sambil menggenggam tangan ayahnya.
"Ayah, aku minta maaf. Aku tak tahu kenapa aku selalu melukaimu."
Ji Wook mematung dibelakangnya.



Setelah bertemu dengan Ji Wook, Yeon Jae merasa senang. Ia bahkan tak bisa memejamkan matanya.


Presiden Im tersadar. Ji Wook dan So Kyeong menginap di rumah sakit. Presiden Im mengusir Ji Wook dan So Kyeong keluar setelah Ji Wook meminta maaf karena masih pada keputusan awalnya.
"Jadi kau menginap hanya untuk mengatakan kalimat itu?" seru So Kyeong marah ketika mereka di luar.
"Ini tanggungjawabku. Presiden menjadi seperti karena aku," jawab Ji Wook.
"Ya, jadi seharusnya kau bilang kau akan mempertimbangkannya. Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu didepan orang yang baru sadar?" runtuk So Kyeong.
"Aku tidak setuju dengan pernikahan, makanya aku tak ingin melakukannya."
"Bagaimana tiba-tiba kau berubah pikiran?" tanya So Kyeong.
"Aku memikirkan hal itu kadang-kadang. Ayah...Kau tak akan menggantikanku dalam peti mati, makanya aku memikirkanmu. Masalah ini mencekik sampai titik kematian. Aku selalu hidup untuk menuruti keinginan ayahku. Tapi aku tak bisa melanjutkannya lagi. Aku ingin hidup untuk diriku sendiri bukan ayahku. Jadi kau juga. Hiduplah untuk dirimu sendiri," ujar Ji Wook serius. So Kyeong termenung.

Dari jauh Eun Suk memperhatikan mereka berdua. Eun Suk bisa menebak So Kyeong adalah wanita yang dimaksud Yeon Jae. Eun Suk menyindir Ji Wook yang selalu terlihat 'sibuk' dengan beberapa wanita.
Ji Wook tersenyum. "Meskipun aku tak tahu mengapa aku mengatakan hal ini, aku sudah memutuskan pertunangan."
Setelah mengatakan itu Ji Wook melenggang pergi. Eun Suk diam tanpa reaksi.


Ji Wook menelepon Yeon Jae dengan jantung berdebar. Ia mengajak Yeon Jae makan malam diluar. Ji Wook akan datang menjemput.


Hye Won mengunjungi Yeon Jae. Hye Won membelikan banyak makanan untuk Yeon Jae. Hye Won menanyakan perkembangan hubungan Yeon Jae dengan Ji Wook. Yeon Jae memberitahu jika Ji Wook telah memutuskan pertunangannya dengan So Kyeong.
Hye Won memekik senang. "Benarkah? Bukankah itu bagus? Itu sangat hebat?"
"Aku tak tahu. Aku pikir hal ini bagus, tapi aku juga takut. Ketika aku memikirkan Im So Kyeong, aku merasa berat," ucap Yeon Jae.
"Ya, itu sudah cukup. Im So Kyeong memperlakukanmu sangat buruk," hibur Hye Won.
"Kau benar." Yeon Jae melamun.
Hye Won kembali menangis. Ia masih tak bisa mempercayai sahabat baiknya harus mengidap kanker mematikan. Hye Won tak habis pikir, apa kesalahan Yeon Jae. Yeon Jae memeluk Hye Won. Ibu Yeon Jae masuk membawakan minum. Ia heran mengapa Hye Won menangis.Yeon Jae berkilah Hye Won sedang ada masalah di kantor.

Hye Won kembali ke kantor. Manager Noh memarahi Hye Won karena terlambat datang. Hye Won malah balik memarahi Manager Noh. Manager Noh hanya bisa bengong. Sedetik kemudian terjadi keributan di Line Tour. Semua line telepon berbunyi. Para klien secara bersamaan membatalkan reservasi. Tentu saja Presiden Im dalangnya.

Direktur Kim langsung mengadakan rapat dadakan. Hampir semua klien Line Tour membatalkan perjanjian kerjasama, termasuk Seojin Group. Tanpa adanya klien, perusahaan akan mengalami kelumpuhan. Direktur Kim dapat mencium ada sesuatu yang terjadi dengan rencana pertunangan Ji Wook dan So Kyeong.

So Kyeong pergi ke Line Tour. So Kyeong berpapasan dengan rombongan direksi Tour Line yang baru saja selesai mengadakan meeting. Melihat kehadiran So Kyeong, Direktur Kim langsung menyindirnya. Ji Wook membela So Kyeong.
Ji Wook membawa So Kyeong ke kantornya. Ia menceritakan keadaan Line Tour. So Kyeong terperanjat. Melihat reaksi So Kyeong, Ji Wook tahu jika So Kyeong tidak terlibat dengan permainan ayahnya. 

Presiden Im menjadi pasien Eun Suk. Menurut diagnosa, ditemukan tumor kecil di kerongkongannya. Dibutuhkan serangkaian tes lanjutan untuk mengetahui tumor itu bisa berkembang menjadi kanker. So Kyeong jelas panik.  

Staff Line Tour masih saja sibuk menerima panggilan telepon yang tak kunjung berhenti. Ji Wook ikut turun tangan. Ia tak bisa tinggal diam melihat staffnya sibuk sendirian. Ji Wook pergi menangani Heritage Hotel yang menjadi salah satu klien mereka. Sebelum pergi Ji Wook meminta Sang Woo mentraktir makan siang seluruh karyawan. Ji Wook terpaksa membatalkan makan malamnya dengan Yeon Jae.

Presiden Kang sudah mendengar Line Tour diambang kehancuran. Ia terpaksa membatalkan perjalanan bisnisnya. Presiden Kang segera menuju rumah Ji Wook. Presiden Kang mengajak Ji Wook bertemu Presiden Im untuk meminta maaf dan melanjutkan rencana pertunangan dengan So Kyeong. Ji Wook tetap pada pendiriannya. Ia menolak.


Presiden Kang murka.
"Aku tak ingin hidup dengan cara kau inginkan. Aku tak ingin melakukannya lagi," ucap Ji Wook tegas.
"Jadi semua usaha ayahmu selama 20 tahun ini, usahaku membangun perusahaan, kau akan membiarkan semuanya hancur? Apa kau tahu bagaimana kerja kerasku membangun perusahaan ini?" seru Presiden Kang.
"Bagaimana mungkin aku tak tahu. Karena itu kau mengabaikan kami, aku dan ibu. Karena kau terlalu fokus pada perusahaanmu, kau bahkan tak tahu ketika ibu meninggal. Waktu itu aku hanya anak berumur 12 tahun. Pergi ke pemakaman seorang diri. Apa kau tahu betapa takutnya aku? Perusahaan itu yang membuatmu membuang keluargamu. Bagaimana mungkin aku tak tahu?" Ji Wook menangis mengenang masa lalunya yang menyakitkan.
Presiden Kang tertegun. "Jadi karena kau menyimpan dendam terhadap ayahmu, kau tak peduli pada nasib perusahaan?"
"Mengapa kau sangat berubah? Ini bukan tentang Seojin Group. Ayah, kau selalu menjalankan perusahaan dengan baik, kan?" ratap Ji Wook.
"Waktu itu dan sekarang, situasinya tidak sama! Itu karena kau tak tahu seperti apa Presiden Im."
"Walaupun aku tak tahu siapa dia, tapi aku tahu orang seperti apa kau. Kau memulainya dari sebuah ruangan kecil dengan seorang karyawan. Kau mengembangkannya sampai menjadi yang terbaik di Korea. Kau menggunakan kesombonganmu sepanjang waktu untuk itu. Ayah yang melakukan itu. Sekarang tanpa Presiden Im, mengapa kau berpikir kau tidak bisa melakukan apapun? Perusahaan ini tidak akan kolaps karena Presiden Im. Aku tak akan membiarkannya terjadi. Jadi ayah, kumohon....Biarkan aku memutuskannya?" mohon Ji Wook.
Presiden Kang melunak. Ia duduk di sofa dengan gontai.
"Kau pikir kau bisa melakukannya? Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya lirih.

Yeon Jae menghitung waktunya yang tersisa, tinggal 127 hari. Yeon Jae menghela nafas mengingat begitu cepat waktu berlalu. Yeon Jae membuka buku '20 Daftar Keinginan Terakhir' nya. Yeon Jae berhenti pada daftar No. 5 Mencoba gaun pengantin.
Yeon Jae membayangkan dirinya dan Ji Wook memakai gaun pengantin dan berjalan menuju altar. Di depan pastor, Ji Wook mengecup Yeon Jae. Khayalan Yeon Jae selesai. Yeon Jae menggelengkan kepalanya, merasa khayalannya tak mungkin menjadi kenyataan. Lalu Yeon Jae membuka daftar No. 7 Bersepeda sepanjang pantai.

Yeon Jae mendapat SMS dari Ji Wook. Ji Wook ada di depan rumahnya. Yeon Jae keluar.

"Aku berpikir seharusnya aku menunjukkan wajahku sebentar. Aku khawatir kau akan merindukanku sepanjang malam," ucap Ji Wook. Yeon Jae tersenyum malu.
"Sepertinya banyak pekerjaan di kantor," terka Yeon Jae.
"Kenapa?"
"Wajahmu terlihat lelah."
"Ini bukan wajah lelah, tapi wajah ganteng," sanggah Ji Wook.
Yeon Jae tertawa. Ji Wook menyuruh Yeon Jae masuk. Yeon Jae memberi lambaian tangan kemudian masuk ke dalam rumah. Begitu Yeon Jae pergi, senyum Ji Wook langsung menghilang. Ji Wook memang benar-benar lelah. Hanya melihat Yeon Jae, rasa lelah Ji Wook terobati.

Walaupun situasi Line Tour sedang kritis, Ji Wook memutuskan tetap membuka Wando Tour. Ji Wook berencana pergi ke Pulau Wando seorang diri. Sang Woo mengkonfirmasikan kepergian Ji Wook pada Presiden Kang.

Yeon Jae merayakan ulang tahun Hye Won dengan ice cream cake berbentuk boneka salju. Yeon Jae menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Hye Won terharu. Yeon Jae bercerita jika dirinya akan pergi selama 4 atau 5 hari ke untuk terapi kanker. Hye Won juga menceritakan masalah yang terjadi di Line Tour. Hye Won yakin masalah timbul karena Ji Wook memutuskan pertunangan dengan So Kyeong. Hye Won merasa kasihan pada Ji Wook yang harus menangani Wando Tour seorang diri. Yeon Jae termenung.

Presiden Im harus menghadapi meja operasi. Tumor di kerongkongannya harus segera diangkat sebelum ukurannya membesar. Eun Suk memberitahu pihak keluarga. Ibu So Kyeong lemas setelah mendengar penjelasan Eun Suk. So Yoon kembali menyindir So Kyeong yang menyebabkan ayah mereka jatuh sakit. So Yoon kembali menyebut-nyebut rencana pertunangan yang gagal. Tak sengaja Eun Suk mendengarnya.

Setelah berpikir lama Yeon Jae memutuskan memundurkan jadwal terapinya. Ia meminta waktu 2 hari lagi. Eun Suk jelas tak setuju. Yeon Jae tetap memaksa dan buru-buru pergi tanpa mempedulikan larangan Eun Suk.

Ji Wook telah sampai di Pulau Wando. Bersama 2 orang guide, Ji Wook meninjau lokasi yang akan dikembangkan menjadi objek wisata. Pemandangan alam Pulau Wando sangat indah. Ji Wook merasa puas.

Sebuah mobil mendekat ke arah Ji Wook. Tanpa disangka Yeon Jae turun dari mobil itu. Ji Wook terkejut dan tentu saja ia sangat senang. Ji Wook berlari mendekati Yeon Jae.
"Mengapa kau kesini?" tanya Ji Wook.
"Aku takut kali ini hanya melihatmu sepintas lagi. Ini rancangan yang kubuat. Aku cemas Kepala Direktur akan mengacaukannya dengan memilih produk secara acak. Tolong pantau itu," jawab Yeon Jae. Ji Wook tertawa.

Ji Wook dan Yeon Jae mengulang kebersamaan lagi seperti ketika di Okinawa, Jepang. Mereka menikmati keindahan Pulau Wando dengan menaiki boat menjaring abalone. Mereka mengumpulkan abalone yang berhasil ditangkap nelayan dan mencoba memakannya langsung. 

Yeon Jae agak terkejut ketika Ji Wook memberitahu akan tidur di dalam mobil. Ji Wook mengingatkan bahwa konsep Wando Tour adalah tentang camping.
"Kau akan berkemah disini?" tanya Yeon Jae. Ji Wook mengangguk yakin.
Yeon Jae membantu Ji Wook mendirikan tenda. Ji Wook heran melihat Yeon Jae mahir mendirikan tenda. Ji Wook mengaku belum pernah mendirikan tenda sebelumnya. Kali ini Yeon Jae yang menatap Ji Wook dengan pandangan heran.

So Kyeong memantau perkembangan Line Tour. Dari sekretarisnya So Kyeong mendapat informasi bahwa Ji Wook pergi ke Pulau Wando seorang diri. So Kyeong menghubungi Ji Wook. So Kyeong berjanji akan membicarakan masalah Line Tour pada ayahnya. Ji Wook khawatir ada maksud lain dibalik kebaikan So Kyeong. So Kyeong meyakinkan jika niatnya membantu sebagai balas jasa karena Ji Wook tak mengungkit masalah mantan pacarnya. Di belakang Ji Wook, Yeon Jae menjerit ketika tangannya tak sengaja terpukul palu. So Kyeong mendengar teriakan Yeon Jae. So Kyeong bisa menebak jika Yeon Jae tengah bersama Ji Wook. Ji Wook tak perlu repot-repot menyangkal. So Kyeong langsung murka.


Tengah malam suasana hati Ji Wook kembali memburuk. Ia terlihat melamun.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Yeon Jae.
"Sepertinya bagus jika tinggal disini bersamamu. Tiga atau empat hari cukup bagus," jawab Ji Wook.

Yeon Jae tahu perasaan Ji Wook yang tengah menghadapi masalah pelik di Line Tour.
"Apakah kau menyesal telah memutuskan pertunangan?"
"Aku akan lebih menyesal jika tak melakukannnya. Sejak ibuku meninggal, apapun yang terjadi dalam hidupku bukanlah masalah. Keras pada diri sendiri, mengabaikan diri sendiri. Tidak ada yang ingin kukerjakan. Tapi aku berterimakasih pada ayahku, aku tumbuh tanpa kekurangan apapun. Jadi aku berpikir bahwa hal itu benar, seharusnya aku tumbuh dan hidup dengan cara yang diinginkan ayahku. Sama seperti pernikahan. Tapi aku berpikir aku tak bisa hidup dengan cara itu lagi. Aku pikir alasannya karena kau," ungkap Ji Wook.
Ji Wook menoleh pada Yeon Jae. Yeon Jae terkejut. Kemudian malah salah tingkah. Yeon Jae tak tahu harus memberi respon apa. Ia memilih masuk ke tenda. Ji Wook menahan lengan Yeon Jae.
"Tetap disini. Tetap disini bersamaku," pinta Ji Wook.

So Kyeong tak bisa menahan kemarahannya. Ia teringat kembali ucapan Yeon Jae ketika datang ke kantornya. So Kyeong yakin motif Yeon Jae mendekati Ji Wook adalah balas dendam.

Ji Wook tidur di mobil sedangkan Yeon Jae di dalam tenda. Ji Wook tak bisa tidur. Ia mengajak Yeon Jae mengobrol.
"Tutup tenda yang rapat karena tengah malam mungkin akan ada sesuatu yang tiba-tiba masuk ke dalam."
"Apa?" tanya Yeon Jae.
"Mungkin serangga," jawab Ji Wook.
Benar saja, tiba-tiba seekor serangga merayap masuk ke dalam tenda. Yeon Jae bangun dan langsung menjerit ngeri. Ji Wook bergegas menghampiri Yeon Jae. Ternyata Ji Wook juga takut pada serangga. Dengan takut-takut Ji Wook menangkap serangga menggunakan jaketnya. Setelah dapat, Ji Wook melempar jaketnya keluar lalu cepat-cepat menarik resleting tenda. Yeon Jae menarik nafas lega.
"Serangga itu kan tidak besar, mengapa kau sangat ketakutan?" ejek Ji Wook sambil tertawa.
"Tadi kau juga ketakutan," balas Yeon Jae. Yeon Jae beralasan serangga itu gerakannya sangat cepat. Ia hampir mati ketakutan.

Ji Wook memandang Yeon Jae. Perlahan ia mendekati Yeon Jae dan mengecup bibir Yeon Jae. Sebuah insiden menggangu 'pekerjaan' mereka. Tenda mereka rubuh. Yeon Jae panik dan berteriak-teriak, begitu juga dengan Ji Wook. Mereka ribut.

Yeon Jae dan Ji Wook membebaskan diri dari tenda yang roboh. Ji Wook langsung protes.
"Bagaimana kau membangun tendanya bisa sampai roboh seperti ini?"
"Mengapa kau berkata seperti itu padaku? Kau bisa membantuku mendirikannya," sahut Yeon Jae.
"Mengapa kau terus-terusan bergerak?" seru Ji Wook.
"Lalu siapa yang menyuruhmu datang padaku?" balas Yeon Jae.
"Ingin melakukannya lagi?" tanya Ji Wook sambil menyenggol Yeon Jae.
"Apa?" Yeon Jae salah tingkah.

"Mendirikan tenda lagi, karena aku tahu bagaimana caranya," jawab Ji Wook sambil ngeloyor pergi, haha...

Pagi hari. Tenda Yeon Jae kembali berdiri (tanpa keterangan siapa yang pasang, hehe). Yeon Jae keluar tenda. Ia mencari-cari Ji Wook yang tiba-tiba menghilang. Dari arah jalan setapak, Ji Wook menuntun 2 buah sepeda.
"Bukankah ini yang ingin kau lakukan?" seru Ji Wook sambil tersenyum.
Yeon Jae tak menyangka Ji Wook tahu keinginannya.
"Ayo, naik!" ajak Ji Wook
"Tapi aku tak bisa naik sepeda," jawab Yeon Jae.
Senyum Ji Wook langsung hilang dan berganti tatapan tak percaya.

Ji Wook membonceng Yeon Jae di stang depan sepeda. Yeon Jae mengalungkan tangannya ke leher Ji Wook (kencan yang romantis, tapi apa gak nabrak tuh). Mereka mengendarai sepeda sepanjang danau dan berbagi ciuman manis.

So Yeong bertambah kesal setelah tahu Ji Wook menginap bersama Yeon Jae di Pulau Wando. So Kyeong memerintahkan sekretarisnya mencari alamat rumah Yeon Jae.

Ji Wook masih terobsesi untuk menemukan sebuah bukit dengan pohon besar ditengahnya. Sayang Ji Wook tak tahu dimana bukit itu berada. Di Pulau Wando juga tak ditemukan bukit seperti masa kecilnya. Ji Wook terlihat kecewa.

Ji Wook mengajak Yeon Jae pulang. Tibat-tiba saja Yeon Jae merasakan perutnya sakit.
"Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Ji Wook melihat Yeon Jae yang kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Tidak." Yeon Jae berbohong, menahan sakit. Ji Wook sepertinya tak percaya. Ia terlihat khawatir.
Sepanjang perjalanan pulang Yeon Jae berusaha menahan rasa sakit. Ia tak mau Ji Wook sampai tahu kondisinya. Melihat wajah pucat Yeon Jae saja, Ji Wook tahu jika Yeon Jae sakit. Yeon Jae masih berusaha menyangkal dengan beralasan pencernaannya sedang terganggu. Ji Wook mengira Yeon Jae terlalu banyak makan abalone.

Ji Wook mengantar Yeon Jae sampai ke depan rumah. Yeon Jae menyuruh Ji Wook pulang. Diam-diam So Kyeong sudah menunggunya disana. So Kyeong menahan geram melihat kebersamaan Ji Wook dan Yeon Jae. Begitu Ji Wook pergi So Kyeong turun dari mobilnya.
Yeon Jae sudah tak bisa menahan nyeri di perutnya. Tangan Yeon Jae bertumpu pada pintu gerbang. Wajahnya semakin pucat. So Kyeong mendekat.
"Balas dendam yang kau maksud adalah ini?" todong So Kyeong langsung. Yeon Jae menoleh.
"Merayu Kang Ji Wook dan membuat dia memutuskan pertunangan denganku? Ini balas dendam yang kau maksud?" seru So Kyeong tajam.
Yeon Jae tak menjawab. Ia memandang So Kyeong dengan menahan rasa sakit yang semakin menjadi di perutnya.

No comments:

Post a Comment

Thanks To My Blog....Harap Sudi Singgah Lagi Di Blog Saya!!!TATA!!!